Penggagalan Penaklukan Kota Pahlawan

Sidoarjo, 12 Agustus 1944

Letnan Kolonel Wahyu Saptono bersama dengan ajudannya Letnan Yohannes Podojoyo  mendarat di Lapangan Udara Sedati, Sidoarjo menggunakan pesawat jenis Junkers Ju 52 dari Kota Semarang. Ia diutus oleh Brigadir Jenderal Ignatius Slamet Rijadi untuk menyusun strategi pertempuran selanjutnya di daerah Surabaya. Selain itu, ia juga telah mendapatkan surat telegram dari seseorang yang berada di daerah Sidoarjo beberapa minggu terakhir untuk meminta bantuan. Dengan baju tentara dan jaket kulit berwarna coklat lengkap dengan pistol Walther P38 dikantong celana, mereka berjalan masuk ke dalam gedung. Pada saat itu, suasana di luar gedung lapangan udara sangat dingin dan gelap.

“Selamat datang Kolonel, kami telah menunggu kedatangan Anda”, sapa Sersan Suprapto, salah satu tentara yang menjaga lapangan udara.

“Terima kasih Sersan”, balas sang Letkol. Wahyu.

Mobil Citroen 11cv berwarna hitam dengan nomor kendaraan Belanda dalam kondisi menyala siap mengantar Letkol. Wahyu dan ajudannya menuju tempat pertemuan. Seorang prajurit berpakaian berwarna hijau gelap dengan senjata api Colt 1911 dan granat bertanda tentara Jepang di sabuknya sedang berdiri siaga di sebelah mobil tersebut.

“Letkol. Wahyu?”, tanya sang prajurit.

“Iya” jawabnya.

“Mari ikut saya”, jawab prajurit tersebut.

Mereka bertiga naik ke dalam mobil dan berangkat menuju tempat pertemuan. Setelah keluar dari daerah lapangan udara, lingkungan menjadi sangat gelap, banyak api yang menyala di pinggir jalan, kertas-kertas propaganda bertebaran di mana-mana, selongsong peluru berserakan, beberapa kendaraan dan meriam ditinggalkan dalam kondisi rusak. Jalanan terasa sangat sunyi, tidak ada seorang pun yang berada di luar gedung di kota tersebut. Prajurit tersebut menyalakan radio mobil. Lagu-lagu dan pidato-pidato propaganda memenuhi atmosfir di dalam mobil.

Keluar dari Kota Sidoarjo, mereka melewati daerah yang kosong dan gelap. Suatu ketika, terlihat bangkai pesawat jenis Douglas C-47 Skytrain yang telah tertembak jatuh.

“Di daerah manakah kita sekarang?”, tanya Letkol. Wahyu kepada supir.

“Kita di daerah antara Sidoarjo dan Malang. Sebentar lagi kita sampai Pak”, balas si supir.

Setelah beberapa jam perjalanan, supir membelokan mobilnya ke kiri dan masuk ke gang kecil di antara ladang jagung. Jalannya hanya berupa tanah yang dipadatkan. Pada ujung jalan tersebut, terlihat beberapa cahaya kecil yang berasal dari gubuk tua yang hanya terbuat dari batu bata dan kayu.

“Kita sudah sampai di tempat pertemuan pak”, kata supir.

Sang supir memberhentikan mobilnya di depan pintu gubuk. Salah satu tentara membukakan pintu belakang mobil, Wahyu dan ajudannya segera turun dari mobil dan berjabat tangan dengan tentara-tentara yang telah menunggu.

“Selamat datang Kolonel, saya Kapten Hartono Cahyudi, kepala pemancar radio titik ke-12 di daerah Sidoarjo. Saya adalah orang yang telah mengirim  telegram dua hari yang lalu kepada Anda”, kata Kapten Hartono.

“Salam kenal Kapten. Jadi, apa sebenarnya yang perlu dibantu? Saya telah melihat daerah sekitar sini dan sepertinya telah ditinggalkan”, balas Wahyu.

“Mari kita bicarakan ini di dalam saja, udara sudah semakin dingin di sini”, jawab Hartono sambil membukakan pintu gubuk.

Kapten Hartono mempersilahkan Wahyu dan Podojoyo untuk duduk di ruang tengah.

“Masaru…, tolong buatkan mereka kopi hangat! Mereka telah melalui perjalanan yang cukup jauh”, pinta si kapten.

“Baik pak”, jawab Masaru dengan logat Jepangnya yang masih kental.

Kopral Ryo Masaru adalah salah satu tentara Jepang yang memutuskan untuk bergabung membela Indonesia. Ia telah bergabung dengan Kapten Hartono selama 5 bulan dan telah melewati 13 pertempuran di daerah Sidoarjo.

“Berapa lama anda dan pasukan anda terjebak di daerah ini?”, tanya Wahyu kepada Hartono.

“Kami terjebak di daerah ini selama 5 bulan. Serangan Jepang yang bertubi-tubi terus mendorong kita keluar dari kota. Lalu kami sampai di daerah perkampungan ini dan menggunakan apa saja yang bisa ditemukan untuk bertahan hidup. Salah satu dari kami menemukan gubuk ini dan akhirnya kami semua pindah ke tempat ini”, jawab Hartono dengan wajahnya yang berusaha mengingat.

Beberapa menit kemudian, Masaru datang dengan membawa 3 gelas kopi untuk Wahyu, Hartono, dan Podojoyo. Podojoyo melihat sekeliling gubuk tersebut. Hanya terdapat dua lampu minyak menerangi seluruh gubuk tersebut. Satu diletakkan di atas meja dan satu lagi menempel di dinding gubuk. Dari kejauhan, terdengar suara pesawat berpatroli dari atas membuat para tentara bersiaga untuk pesawat pengintai. Saat Wahyu dan Hartono sedang bercengkrama di dalam gubuk, Podojoyo memutuskan untuk melihat sekitar. Ia pergi ke halaman belakang dan melihat empat serdadu yang terluka sedang duduk termenung. Meriam penangkis serangan udara M51 Quad .50cal milik tentara sekutu terparkir di halaman.

Tiba-tiba, ia melihat cahaya senter yang berasal dari ladang jagung. Tanpa pikir panjang, ia segera memanggil beberapa serdadu yang berjaga di sekitar. Salah satu dari serdadu tersebut lari masuk ke dalam gubuk dan melapor kepada Kapten Hartono.

“Pasukan, posisi siaga!”, perintah Hartono kepada seluruh pasukannya.

“Saya prediksi Anda telah bersiap untuk bertempur?”, tanya Hartono kepada Wahyu dengan wajah senyum.

“Saya selalu siap”, jawab Wahyu dengan semangat sambil mengeluarkan pistol dari sakunya.

Dari atas, terdengar suara pesawat Jepang mendekati daerah tersebut. Suara baling-balingnya yang semakin keras tidak membuat para pejuang takut. Cahaya senter tersebut bertambah banyak. Suara rumput yang terinjak semakin keras dan muncul dari berbagai arah.

“Siapa di sana?!!!”, tanya salah satu serdadu Hartono dengan gertakan.

Tidak ada balasan, hanya ada suara bisikan dan pijakan kaki. Para tentara menembakan tembakan peringatan ke udara. Suara teriakan dengan bahasa yang asing muncul dari segala arah. Dari arah ladang, terdengar suara tembakan. Hartono menyuruh pasukannya untuk menembak. Adu tembak terjadi, suara teriakan kesakitan dan gertakan, tembakan, dan selongsong peluru terjatuh terdengar di mana-mana. Pesawat mulai mendekat dan menembakan senjatanya ke arah gubuk. Beberapa tentara Indonesia lari masuk ke dalam gubuk untuk berlindung. Seorang sersan Indonesia bediri di sebelah jendela dan menembakan senjata mesin “Type 96 LMG” ke arah ladang. Beberapa terkena tembak dan gugur dan beberapa masih dapat menembak.

“Kita terjebak! Kita telah dikepung dari segala arah!”, teriak  Wahyu kepada Hartono.

Kita belum bisa menyerah, kita harus tetap bertempur sampai darah penghabisan!”, balas Hartono.

“Beberapa tentara telah tewas! Kita tidak bisa kehilangan banyak serdadu dengan sia-sia! Kita harus mundur dan mencari tempat yang aman!”, tegur Wahyu.

Setelah berpikir beberapa saat, Hartono memutuskan untuk menyuruh semua pasukannya untuk mundur melalui ladang dan menuju gudang penyimpanan hasil panen di sebelah barat. Jaraknya sekitar 2 kilometer dari gubuk.

“Pasukan, mundur ke gudang!”, teriak Hartono sambil menembak.

Kopral Masaru dan Letnan Podojoyo segera lari masuk gubuk dan mengambil alat komunikasi untuk dibawa ke gudang. Dari 20 pasukan yang dimiliki Hartono, tinggal tersisa 14 pasukan, Letkol Wahyu, dan Letnan Podojoyo.

“Selamat datang di rumah barumu”, kata Hartono sambil melemparkan sebuah granat ke gubuk tersebut.

Dalam sekejab, seluruh gubuk itu meledak, menyisakan serpihan kayu, patahan batu bata, dan api. Suara tembakan langsung menghilang, yang tersisa hanya suara teriakan menderita para tentara Jepang akibat ledakan tersebut.

Sesampai di gudang penyimpanan, telah terparkir beberapa kendaraan persediaan amunisi telah disiapkan.

“Kita harus segera ke Surabaya sebelum Jepang sampai!”, kata Podojoyo.

“Ada yang puny ide untuk cara pergi ke sana?”, tanya Wahyu.

“Kita bisa menggunakan kendaraan ini”, jawab Sersan Darmawan sambil menaruh tangannya di atas truk GMC 6×6.

Sersan Darmawan Panjaitan adalah ahli dalam bagian senapan mesin. Ia juga ahli dalam bidang seni dan bahasa. Dulu, sebelum ia bertugas sebagai tentara, ia adalah seorang guru di salah satu sekolah SMP di Medan.

“Benar juga ya. Pasukan! Siapkan barang bawaan, kita akan pindah”, suruh Wahyu kepada seluruh tentara.

Surabaya, 13 Agustus 1944

Empat belas jam perjalanan melewati hutan dan jalan yang penuh hambatan. Mereka akhirnya sampai di Kota Surabaya yang sebentar lagi akan diserang oleh tentara Jepang. Para pasukan yang berada di kota tersebut telah kewalahan dan sekarat dalam menghadapi pasukan Jepang yang terus-menerus menyerang. Alaram serangan udara terus berbunyi, serdadu-serdadu belarian keluar masuk gedung-gedung. Seluruh kota penuh dengan kekacauan dan kepanikan. Mereka langsung menuju gedung bekas pemerintahan Belanda yang sekarang dikenal sebagai Gedung Grahadi.

“Segera turun! Podojoyo dan Masaru, segera masuk ke gedung dan hubungi markas di Jogja dan yang lain berjaga di luar gedung! Kita harus bergerak cepat sebelum Jepang menguasai tempat ini!”, perintah Wahyu dengan tegas.

Masaru, Podojoyo dan serdadu lainnya segera masuk ke dalam gedung seperti yang diperintahkan Wahyu. Di dalam gedung hamper tidak ada siapapun. Kebanyakan hanya serdadu yang terluka di medan perang. Memasuki ruangan radio, Podojoyo segara mengambil mic radio dan menghubungi markas.

“Halo, angakatan udara Yogyakarta?”, tanya Podojoyo di radio.

“Halo, ini markas udara Yogyakarta, ada yang bisa dibantu?”, jawab salah satu komandan di radio.

“Ini Letnan Podojoyo, ajudan Letkol Wahyu bersama dengan 16 orang lainnya meminta bantuan udara sekarang juga di Kota Surabaya”, kata Podojoyo.

“Mohon tunggu sebentar”, jawab petugas radio tanpa ada balasan yang jelas.

Podojoyo mulai resah dan tidak tahu harus bagaimana. Dua menit berlalu dan belum ada jawaban. Suara adu tembak mulai terdengar di luar gedung.  Di luar gedung, Wahyu, Hartono, dan lainnya sedang menghadapi pasukan Jepang yang jumlahnya cukup banyak yang juga dilengkapi 3 buah tank Type 97 “Shinoto Chi-Ha” dan 5 buah truk Type 1 “Ho-Ha” yang bergerak mendekati posisi mereka. Salah satu tank mengarahkan meriamnya ke arah kelompok Wahyu dan menembak.

“AWAS!”, teriak Wahyu.

Bom tersebut mengenai posisi mereka. Wahyu tertembak dan kehilangan kaki kanannya.
“Masuk ke dalam gedung semua sekarang! Biarkan saya di sini!”, suruh Wahyu sambil menahan rasa sakitnya.

Tank kedua mengarahkan meriamnya ke arah Wahyu. Sesaat sebelum tank tersebut menembak, suara pesawat berjumlah banyak muncul dan semakin dekat, ternyata pasukan angkatan udara sudah sampai dan menghancurkan seluruh pasukan Jepang tersebut. Tank-tank tersebut langsung meledak sekejap setelah dibom oleh pesawat. Para tentara Jepang mundur dan lari. Penaklukan Kota Surabaya telah digagalkan, tetapi Letkol Wahyu tewas ditempat beberapa saat setelah pesawat datang.

Setelah Indonesia merdeka, Letkol Wahyu Saptono dianugerahi medali Bintang Sakti dan Bintang Jalanesa atas keberanian, kepahlawanan, kecakapan, kebijaksanaan, dan jasa luar biasa melebihi panggilan tugas tanpa merugikan tugas pokok. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.  Kapten Hartono Cahyudi dan Letnan Yohannes Podojoyo dianugerahi medali Bintang Dharma karena telah menyumbang jasa dan bakti kepada negara. Mereka berdua memutuskan untuk bergabung dengan TNI setelah perang usai. Kopral Ryo Masaru berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Indonesia dan mengabdi sebagai guru bahasa Jepang di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul.  Sersan Darmawan Panjaitan dianugerahi medali Bintang Republik Indonesia karena berjasa luar biasa dalam membuat senjata rakitan yang akhirnya dipergunakan oleh kebanyakan tentara pada masa perang kemerdekaan dan bekerja di PT. PINDAD setelah perang usai.

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s