Sang Penyampai Berita Baik

Di sebuah gedung yang gelap dan kotor bernama Kepastoran St. Peter, para pastor dan frater yang tersisa di Kota Dresden, Jerman sedang menggelar pertemuan untuk mengirim dua orang misionaris ke daerah terpencil di Perancis untuk membantu para warga sipil setempat yang terjebak dalam kekacauannya Perang Dunia Kedua di Perancis.

“Siapakah yang bersedia untuk ditugaskan di Perancis?”, kata sang pimpinan pastor dalam pertemuan tersebut. Semua pastor dan frater saling berdiskusi sampai salah satu pastor bersama seorang frater mengacungkan tangan ke atas. “Saya dan murid saya, Frater Pius, bersedia untuk ditugaskan di Perancis”, kata Pastor Johann dengan tegas. Sang pemimpin menanyakan lagi untuk memastikan dan pastor tersebut tetap bersedia. Maka keputusan sudah bulat, Pastor Johann dan Frater Pius akan dikirim ke Perancis.

            Keesokan harinya, mereka berdua menyiapkan pakaian dan barang-barang yang akan dibawa seperti Alkitab dan jubah. Mereka lalu berangkat dengan berjalan kaki sampai ke perbatasan kota. Mereka meminta tumpangan dari tentara Jerman yang akan pergi ke Kota Paris, Perancis. Dibutuhkan waktu 3 jam untuk sampai di Kota Paris dengan menggunakan truk. Sesampainya di Paris, mereka memutuskan untuk berjalan kaki dari Paris ke sebuah desa di daerah Île-de-France.

            Ketika sampai disana, pemandangan yang kurang menyenangkan terlihat. Para tentara Jerman sedang menjarah desa tersebut. Mereka mengambil makanan dan harta yang dimiliki oleh penduduk dan juga membawa beberapa saudara mereka untuk dibawa ke kamp konsentrasi.

“Apa yang kalian lakukan? Kembalikan barang-barang itu! Apa kalian tidak lihat mereka tidak mempunyai banyak barang yang dimiliki dan kalian hanya merampasnya begitu saja? Mereka hanya masyarakat kecil!”, tegur Pastor Johann kepada para tentara.

“Kau kira siapakah kamu ini? Kau bukan siapa-siapa dari kami, sana pergi sebelum kami menembak kalian berdua! Lagipula, perang memang begitu, mengambil segalanya yang dimiliki, kau harus menerimanya teman!”, balas salah satu tentara dengan wajah sinis.

Pastor Johann dan Frater Pius memutuskan untuk menghubungi markas kepastoran mereka di Dresden dengan menggunakan telepon umum. Frater Pius menghubungi kepastoran sedangkan Pastor Pius sedang bertanya-tanya kepada warga sekitar tentang berita-berita yang terjadi di Paris.

            Setelah menghubungi kepastoran untuk mendapatkan berita, mereka memutuskan untuk kembali ke desa untuk memeriksa keadaan desa tersebut. Sesampai di desa, mereka menemukan bahwa beberapa penduduk telah tewas ditembak di tengah-tengah desa. Beberapa dari mereka menangis dan marah akibat kejadian tersebut. Sekarang mereka tidak mempunyai apa-apa lagi selain rumah yang mereka tempati, itu pun akan disita oleh pemerintah Jerman untuk dijadikan markas.

“Berhentilah bersedih, ini semua sudah direncanakan oleh Tuhan. Tuhan mempunyai jalannya sendiri yang telah disiapkan untuk kalian semua. Berdoalah, itu akan membantu meredakan rasa sakit di hatimu”, kata Pastor Johann kepada salah satu penduduk sambil memberikan sebuah Rosario.

Setelah bernegosiasi dengan penduduk, mereka dipersilahkan untuk tinggal di desa tersebut.

            Ketika sedang mendengarkan radio, Frater Pius mendengar berita bahwa ada sebuah organisasi bernama Forces Françaises Libres (Pasukan Perancis Bebas) yang dipimpin oleh Jendral Charles de Gaulle. Frater Pius berpikir kemungkinan besar jika para warga ini diungsikan bersama dengan pasukan tersebut, mereka akan lebih aman dari kejahatan pasukan Jerman. Frater segera mencari pastor untuk memberitahu mengenai idenya tersebut. Setelah berdiskusi, pastor setuju dengan ide tersebut dan segera bernegosiasi dengan kepala desa di desa tersebut. Kepala desa setuju dengan hal tersebut dan menyuruh semua warganya untuk mengemasi barang-barang mereka untuk pergi.

            Untuk mengisi waktu luang, setiap malam Pastor Johann dan Frater Pius menggelar rekoleksi dan pendalaman kitab suci bersama para warga yang ingin mengikuti. Setelah beberapa hari mengemas barang-barang, 3 truk Opel didatangkan untuk mengangkut barang-barang tersebut bersama para warga. Evakuasi desa berjalan dengan lancar. Mereka semua sampai ke daerah Pasukan Perancis Bebas dengan selamat.

            Akibat kejadian perampasan yang terjadi sebelumnya di desa, Pastor Johann dan Frater Pius berbicara dalam sebuah acara di radio nasional milik pemerintah Perancis mengenai perlawanan mereka terhadap aksi tersebut.

            Kata-kata mereka terdengar oleh Letkol. Paul Libernski, Kepala Pasukan Resim Panzer Ke-34 yang saat itu sedang berada di daerah Compiegne. Mendengar hal tersebut, ia pun marah dan tidak dapat menerima pernyataan itu. Untuk membalas hal yang dilakukan oleh Pastor Johann dan Frater Pius, ia memutuskan untuk merusak nama baik mereka dengan membuat propaganda yang mengatakan bahwa mereka adalah “Pembunuh di balik jubah putih”. Selain itu, ia juga mengerahkan polisi rahasia Jerman, Gestapo untuk menangkap mereka. Sejak hal itu, sekarang kedua misionaris itu harus terus bergerak dari satu kota ke yang lain untuk mempersulit pencarian para Gestapo untuk menemukan mereka. Walaupun begitu, mereka tetap melayani umat-umat yang berada di daerah-daerah yang dilewati mereka

            Mereka terus berlari sampai pada akhirnya keduanya terjebak dalam baku tembak antara pasukan Jerman dengan pasukan Sekutu yang terjebak di pedalaman Kota  Amen. Dengan tidak sengaja, mereka bertemu dengan Kapten Frederick Herl, pemimpin Regu Infantri Ke-57. Mereka tercengang dan kaget ketika menemuinya.

“Apa yang kalian lakukan di sini? Kalian tahu kalau kalian buronan Jerman? Ayo ikut saya, kalian harus keluar dari sini!”, kata Kapten Frederick.

Mereka langsung lari keluar dari daerah baku tembak. Dengan sekuat tenaga, mereka bertiga berusaha menghindari pasukan Jerman lainnya agar tidak tertangkap. Tiba-tiba, sebuah bom meluncur melewati mereka bertiga dan menghantam tembok dan meledak. Pastor Johann dan Kapten Frederick terdorong ke belakang akibat bom tersebut.  Frater Pius kaget  menoleh ke belakang terdiam dengan mulut ternganga.

“Larilah, kami akan baik-baik saja!”, suruh Pastor Johann kepada Frater Pius.

Frater Pius berbalik dan berlari menjauh kedua orang tersebut yang masih tergeletak di tanah. Tak lama kemudian, beberapa tentara Jerman datang bersama seorang perwira.

“Akhirnya kau menyerah. Tangkap pastor tersebut serta tentara yang telah mengkhianati kita!”, teriak perwira tersebut kepada serdadunya.

Sang pastor dan kapten ditangkap dan dibawa ke kemah konsentrasi di Auschwitz, Polandia. Mereka ditahan dalam sebuah gudang bersama ribuan tahanan lainnya yang salah satunya adalah Maximilian Kolbe, seorang pastor yang dengan sukarela menjalani eksekusi mati tanggal 14 Agustus 1941 dengan disuntikan racun ke tubuhnya demi menggantikan seorang  tahanan yang melarikan diri dari kemah konsentrasi Auschwitz. Ia pada akhirnya diberi gelar Santo oleh Paus John Paul II pada tanggal 10 Oktober 1982.

            Pada tanggal 17 Agustus 1941, Pastor Johann dan Kapten Frederick Herl dijatuhi hukuman mati. Pada sore hari, tepatnya pukul 6, mereka ditembak mati oleh regu tembak Jerman tepat di depan ruang krematorium dengan disaksikan oleh Letnan Kolonel Paul Libernski yang sangat menginginkan Pastor Johann dibunuh.

            Setelah Perang Dunia II usai, Frater Pius keluar dari persembunyiannya di daerah Cannes, Perancis. Ia kembali ke Kota Dresden di mana petualangannya bersama Pastor Johann dimulai. Ia sangat sedih melihat kondisi gedung yang dulu digunakan oleh para pastor dan frater di daerah Dresden untuk berkumpul telah rusak parah. Yang tersisa hanya puing-puing atap dan debu. Ketika masuk, ruangan-ruangan tersebut sudah tidak asing lagi baginya. Setelah melihat sekitar, ia mulai mengingat Pastor Johann. Ia tidak pernah tahu bahwa Pastor Johann telah tiada. Sampai pada tanggal 20 November 1945, ia diundang untuk datang ke salah satu pengadilan militer di Kota Berlin untuk mengikuti sidang sebagai korban  kejahatan Letnan Kolonel Paul Libernski selama perang. Ia diberitahu oleh para saksi bahwa Pastor Johann telah meninggal.

            Dalam sidang tersebut, ia hanya berkata “Saya tidak ada rasa dendam kepada anda (Paul Libernski), atas pebuatan anda kepada saya dan guru saya, Pastor Johann. Rasa dendam tidak pernah menyelesaikan masalah. Saya telah memaafkan anda, sekarang keputusan di tangan para juri dan hakim saja.”

Pada akhir sidang, hakim dan para juri memutuskan untuk menjatuhkan hukum penjara seumur hidup kepada Paul Libernski.

            Tanggal 16 Desember 1945, Frater Pius ditahbiskan menjadi pastor di Gereja Katedral St. Hedwig, Berlin. Ia sempat dipanggil oleh Paus Pius XII untuk datang ke Kota Vatikan pada tanggal 3 Februari 1947 dalam acara doa bersama di Basilika St. Petrus.

            Selama hidupnya, ia datang ke tempat-tempat terpencil untuk membantu rakyat miskin dan juga memberi kebahagiaan kepada banyak orang. Pastur Pius meninggal dunia pada tanggal 7 Juli 1986 setelah memberi berkat hosti dan anggur dalam sebuah misa di Gereja St. Anthony di Kota Dresden, Jerman akibat sesak nafas. Dia dikubur di halaman sebuah gedung dalam kondisi telah rusak parah yang sebenarnya adalah Gedung Kepastoran St. Peter, tempat asal Pastor Pius dan Pastor Johann dulu. Di sebelah makamnya adalah makam Pastor Johann dan pastor-pastor lainnya yang berasal dari kepastoran tersebut.

Penggagalan Penaklukan Kota Pahlawan

Sidoarjo, 12 Agustus 1944

Letnan Kolonel Wahyu Saptono bersama dengan ajudannya Letnan Yohannes Podojoyo  mendarat di Lapangan Udara Sedati, Sidoarjo menggunakan pesawat jenis Junkers Ju 52 dari Kota Semarang. Ia diutus oleh Brigadir Jenderal Ignatius Slamet Rijadi untuk menyusun strategi pertempuran selanjutnya di daerah Surabaya. Selain itu, ia juga telah mendapatkan surat telegram dari seseorang yang berada di daerah Sidoarjo beberapa minggu terakhir untuk meminta bantuan. Dengan baju tentara dan jaket kulit berwarna coklat lengkap dengan pistol Walther P38 dikantong celana, mereka berjalan masuk ke dalam gedung. Pada saat itu, suasana di luar gedung lapangan udara sangat dingin dan gelap.

“Selamat datang Kolonel, kami telah menunggu kedatangan Anda”, sapa Sersan Suprapto, salah satu tentara yang menjaga lapangan udara.

“Terima kasih Sersan”, balas sang Letkol. Wahyu.

Mobil Citroen 11cv berwarna hitam dengan nomor kendaraan Belanda dalam kondisi menyala siap mengantar Letkol. Wahyu dan ajudannya menuju tempat pertemuan. Seorang prajurit berpakaian berwarna hijau gelap dengan senjata api Colt 1911 dan granat bertanda tentara Jepang di sabuknya sedang berdiri siaga di sebelah mobil tersebut.

“Letkol. Wahyu?”, tanya sang prajurit.

“Iya” jawabnya.

“Mari ikut saya”, jawab prajurit tersebut.

Mereka bertiga naik ke dalam mobil dan berangkat menuju tempat pertemuan. Setelah keluar dari daerah lapangan udara, lingkungan menjadi sangat gelap, banyak api yang menyala di pinggir jalan, kertas-kertas propaganda bertebaran di mana-mana, selongsong peluru berserakan, beberapa kendaraan dan meriam ditinggalkan dalam kondisi rusak. Jalanan terasa sangat sunyi, tidak ada seorang pun yang berada di luar gedung di kota tersebut. Prajurit tersebut menyalakan radio mobil. Lagu-lagu dan pidato-pidato propaganda memenuhi atmosfir di dalam mobil.

Keluar dari Kota Sidoarjo, mereka melewati daerah yang kosong dan gelap. Suatu ketika, terlihat bangkai pesawat jenis Douglas C-47 Skytrain yang telah tertembak jatuh.

“Di daerah manakah kita sekarang?”, tanya Letkol. Wahyu kepada supir.

“Kita di daerah antara Sidoarjo dan Malang. Sebentar lagi kita sampai Pak”, balas si supir.

Setelah beberapa jam perjalanan, supir membelokan mobilnya ke kiri dan masuk ke gang kecil di antara ladang jagung. Jalannya hanya berupa tanah yang dipadatkan. Pada ujung jalan tersebut, terlihat beberapa cahaya kecil yang berasal dari gubuk tua yang hanya terbuat dari batu bata dan kayu.

“Kita sudah sampai di tempat pertemuan pak”, kata supir.

Sang supir memberhentikan mobilnya di depan pintu gubuk. Salah satu tentara membukakan pintu belakang mobil, Wahyu dan ajudannya segera turun dari mobil dan berjabat tangan dengan tentara-tentara yang telah menunggu.

“Selamat datang Kolonel, saya Kapten Hartono Cahyudi, kepala pemancar radio titik ke-12 di daerah Sidoarjo. Saya adalah orang yang telah mengirim  telegram dua hari yang lalu kepada Anda”, kata Kapten Hartono.

“Salam kenal Kapten. Jadi, apa sebenarnya yang perlu dibantu? Saya telah melihat daerah sekitar sini dan sepertinya telah ditinggalkan”, balas Wahyu.

“Mari kita bicarakan ini di dalam saja, udara sudah semakin dingin di sini”, jawab Hartono sambil membukakan pintu gubuk.

Kapten Hartono mempersilahkan Wahyu dan Podojoyo untuk duduk di ruang tengah.

“Masaru…, tolong buatkan mereka kopi hangat! Mereka telah melalui perjalanan yang cukup jauh”, pinta si kapten.

“Baik pak”, jawab Masaru dengan logat Jepangnya yang masih kental.

Kopral Ryo Masaru adalah salah satu tentara Jepang yang memutuskan untuk bergabung membela Indonesia. Ia telah bergabung dengan Kapten Hartono selama 5 bulan dan telah melewati 13 pertempuran di daerah Sidoarjo.

“Berapa lama anda dan pasukan anda terjebak di daerah ini?”, tanya Wahyu kepada Hartono.

“Kami terjebak di daerah ini selama 5 bulan. Serangan Jepang yang bertubi-tubi terus mendorong kita keluar dari kota. Lalu kami sampai di daerah perkampungan ini dan menggunakan apa saja yang bisa ditemukan untuk bertahan hidup. Salah satu dari kami menemukan gubuk ini dan akhirnya kami semua pindah ke tempat ini”, jawab Hartono dengan wajahnya yang berusaha mengingat.

Beberapa menit kemudian, Masaru datang dengan membawa 3 gelas kopi untuk Wahyu, Hartono, dan Podojoyo. Podojoyo melihat sekeliling gubuk tersebut. Hanya terdapat dua lampu minyak menerangi seluruh gubuk tersebut. Satu diletakkan di atas meja dan satu lagi menempel di dinding gubuk. Dari kejauhan, terdengar suara pesawat berpatroli dari atas membuat para tentara bersiaga untuk pesawat pengintai. Saat Wahyu dan Hartono sedang bercengkrama di dalam gubuk, Podojoyo memutuskan untuk melihat sekitar. Ia pergi ke halaman belakang dan melihat empat serdadu yang terluka sedang duduk termenung. Meriam penangkis serangan udara M51 Quad .50cal milik tentara sekutu terparkir di halaman.

Tiba-tiba, ia melihat cahaya senter yang berasal dari ladang jagung. Tanpa pikir panjang, ia segera memanggil beberapa serdadu yang berjaga di sekitar. Salah satu dari serdadu tersebut lari masuk ke dalam gubuk dan melapor kepada Kapten Hartono.

“Pasukan, posisi siaga!”, perintah Hartono kepada seluruh pasukannya.

“Saya prediksi Anda telah bersiap untuk bertempur?”, tanya Hartono kepada Wahyu dengan wajah senyum.

“Saya selalu siap”, jawab Wahyu dengan semangat sambil mengeluarkan pistol dari sakunya.

Dari atas, terdengar suara pesawat Jepang mendekati daerah tersebut. Suara baling-balingnya yang semakin keras tidak membuat para pejuang takut. Cahaya senter tersebut bertambah banyak. Suara rumput yang terinjak semakin keras dan muncul dari berbagai arah.

“Siapa di sana?!!!”, tanya salah satu serdadu Hartono dengan gertakan.

Tidak ada balasan, hanya ada suara bisikan dan pijakan kaki. Para tentara menembakan tembakan peringatan ke udara. Suara teriakan dengan bahasa yang asing muncul dari segala arah. Dari arah ladang, terdengar suara tembakan. Hartono menyuruh pasukannya untuk menembak. Adu tembak terjadi, suara teriakan kesakitan dan gertakan, tembakan, dan selongsong peluru terjatuh terdengar di mana-mana. Pesawat mulai mendekat dan menembakan senjatanya ke arah gubuk. Beberapa tentara Indonesia lari masuk ke dalam gubuk untuk berlindung. Seorang sersan Indonesia bediri di sebelah jendela dan menembakan senjata mesin “Type 96 LMG” ke arah ladang. Beberapa terkena tembak dan gugur dan beberapa masih dapat menembak.

“Kita terjebak! Kita telah dikepung dari segala arah!”, teriak  Wahyu kepada Hartono.

Kita belum bisa menyerah, kita harus tetap bertempur sampai darah penghabisan!”, balas Hartono.

“Beberapa tentara telah tewas! Kita tidak bisa kehilangan banyak serdadu dengan sia-sia! Kita harus mundur dan mencari tempat yang aman!”, tegur Wahyu.

Setelah berpikir beberapa saat, Hartono memutuskan untuk menyuruh semua pasukannya untuk mundur melalui ladang dan menuju gudang penyimpanan hasil panen di sebelah barat. Jaraknya sekitar 2 kilometer dari gubuk.

“Pasukan, mundur ke gudang!”, teriak Hartono sambil menembak.

Kopral Masaru dan Letnan Podojoyo segera lari masuk gubuk dan mengambil alat komunikasi untuk dibawa ke gudang. Dari 20 pasukan yang dimiliki Hartono, tinggal tersisa 14 pasukan, Letkol Wahyu, dan Letnan Podojoyo.

“Selamat datang di rumah barumu”, kata Hartono sambil melemparkan sebuah granat ke gubuk tersebut.

Dalam sekejab, seluruh gubuk itu meledak, menyisakan serpihan kayu, patahan batu bata, dan api. Suara tembakan langsung menghilang, yang tersisa hanya suara teriakan menderita para tentara Jepang akibat ledakan tersebut.

Sesampai di gudang penyimpanan, telah terparkir beberapa kendaraan persediaan amunisi telah disiapkan.

“Kita harus segera ke Surabaya sebelum Jepang sampai!”, kata Podojoyo.

“Ada yang puny ide untuk cara pergi ke sana?”, tanya Wahyu.

“Kita bisa menggunakan kendaraan ini”, jawab Sersan Darmawan sambil menaruh tangannya di atas truk GMC 6×6.

Sersan Darmawan Panjaitan adalah ahli dalam bagian senapan mesin. Ia juga ahli dalam bidang seni dan bahasa. Dulu, sebelum ia bertugas sebagai tentara, ia adalah seorang guru di salah satu sekolah SMP di Medan.

“Benar juga ya. Pasukan! Siapkan barang bawaan, kita akan pindah”, suruh Wahyu kepada seluruh tentara.

Surabaya, 13 Agustus 1944

Empat belas jam perjalanan melewati hutan dan jalan yang penuh hambatan. Mereka akhirnya sampai di Kota Surabaya yang sebentar lagi akan diserang oleh tentara Jepang. Para pasukan yang berada di kota tersebut telah kewalahan dan sekarat dalam menghadapi pasukan Jepang yang terus-menerus menyerang. Alaram serangan udara terus berbunyi, serdadu-serdadu belarian keluar masuk gedung-gedung. Seluruh kota penuh dengan kekacauan dan kepanikan. Mereka langsung menuju gedung bekas pemerintahan Belanda yang sekarang dikenal sebagai Gedung Grahadi.

“Segera turun! Podojoyo dan Masaru, segera masuk ke gedung dan hubungi markas di Jogja dan yang lain berjaga di luar gedung! Kita harus bergerak cepat sebelum Jepang menguasai tempat ini!”, perintah Wahyu dengan tegas.

Masaru, Podojoyo dan serdadu lainnya segera masuk ke dalam gedung seperti yang diperintahkan Wahyu. Di dalam gedung hamper tidak ada siapapun. Kebanyakan hanya serdadu yang terluka di medan perang. Memasuki ruangan radio, Podojoyo segara mengambil mic radio dan menghubungi markas.

“Halo, angakatan udara Yogyakarta?”, tanya Podojoyo di radio.

“Halo, ini markas udara Yogyakarta, ada yang bisa dibantu?”, jawab salah satu komandan di radio.

“Ini Letnan Podojoyo, ajudan Letkol Wahyu bersama dengan 16 orang lainnya meminta bantuan udara sekarang juga di Kota Surabaya”, kata Podojoyo.

“Mohon tunggu sebentar”, jawab petugas radio tanpa ada balasan yang jelas.

Podojoyo mulai resah dan tidak tahu harus bagaimana. Dua menit berlalu dan belum ada jawaban. Suara adu tembak mulai terdengar di luar gedung.  Di luar gedung, Wahyu, Hartono, dan lainnya sedang menghadapi pasukan Jepang yang jumlahnya cukup banyak yang juga dilengkapi 3 buah tank Type 97 “Shinoto Chi-Ha” dan 5 buah truk Type 1 “Ho-Ha” yang bergerak mendekati posisi mereka. Salah satu tank mengarahkan meriamnya ke arah kelompok Wahyu dan menembak.

“AWAS!”, teriak Wahyu.

Bom tersebut mengenai posisi mereka. Wahyu tertembak dan kehilangan kaki kanannya.
“Masuk ke dalam gedung semua sekarang! Biarkan saya di sini!”, suruh Wahyu sambil menahan rasa sakitnya.

Tank kedua mengarahkan meriamnya ke arah Wahyu. Sesaat sebelum tank tersebut menembak, suara pesawat berjumlah banyak muncul dan semakin dekat, ternyata pasukan angkatan udara sudah sampai dan menghancurkan seluruh pasukan Jepang tersebut. Tank-tank tersebut langsung meledak sekejap setelah dibom oleh pesawat. Para tentara Jepang mundur dan lari. Penaklukan Kota Surabaya telah digagalkan, tetapi Letkol Wahyu tewas ditempat beberapa saat setelah pesawat datang.

Setelah Indonesia merdeka, Letkol Wahyu Saptono dianugerahi medali Bintang Sakti dan Bintang Jalanesa atas keberanian, kepahlawanan, kecakapan, kebijaksanaan, dan jasa luar biasa melebihi panggilan tugas tanpa merugikan tugas pokok. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.  Kapten Hartono Cahyudi dan Letnan Yohannes Podojoyo dianugerahi medali Bintang Dharma karena telah menyumbang jasa dan bakti kepada negara. Mereka berdua memutuskan untuk bergabung dengan TNI setelah perang usai. Kopral Ryo Masaru berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Indonesia dan mengabdi sebagai guru bahasa Jepang di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul.  Sersan Darmawan Panjaitan dianugerahi medali Bintang Republik Indonesia karena berjasa luar biasa dalam membuat senjata rakitan yang akhirnya dipergunakan oleh kebanyakan tentara pada masa perang kemerdekaan dan bekerja di PT. PINDAD setelah perang usai.

TAMAT

My Speech on HighScope Bali Graduation Day

My speech on the Graduation Day at Sekolah Highscope Indonesia – Bali. The film is taken by my father.

See the complete transcript as follows:

For six years we have learned and played together. There has been happiness and sadne…ss. For six months we have prepared for the UN and came home late.
Today, we gather here to celebrate our Graduation Day. All parties have supported us to achieve this. I would like to say thank you to all parents who have supported us these 6 years and also to all of our friends who have accompanied us and supported us in school. The principle and the teachers who have taught us. To the librarian, administration staff, chefs, office boys and office girls. To drivers and chevrons who have to work hard on the road everyday so that we can arrive at school and home safely and on time. Once again thank you to everyone.
To all our friends, this is not the end but this is just the next step for us to reach our dreams.
Like Dr. Seuss, an American writer and cartoonist said, “You have brains in your head. You have feet in your shoes. You can steer yourself in any direction you choose. You’re on your own. And you know what you know. You are the guy who’ll decide where to go”.
Last but not least, let’s keep our friendship forever and ever.
Thank you.

Penyerangan Mimi Land

Di sebuah pulau di Samudera Atlantik, terletak sebuah negara bernama Mimi Land. Negara ini dipimpin oleh seorang Presiden bernama John Hensor serta Wakil Presiden bernama Alfred Donvon.

Pada tahun 1939, Mimi Land memilih untuk bergabung dengan tim poros bersama Jerman, Italia dan Jepang. Pada tahun 1945, Jerman akhirnya menyerah. Tetapi Presiden Mimi Land, John Hensor belum ingin menyerah. Pada tanggal 20 Desember 1945, pasukan Sekutu akhirnya mendarat di Pantai Konslav, Kota Adi.

Oberstleutnant Ron Vonslav, Komandan dari pasukan Divisi Ke-8 Infantri dikirim oleh Menteri Pertahanan untuk membantu pasukan Divisi Lapis Baja Ke-67 dan Divisi Ke-92 Infantri. Dalam perjalanan menuju Kota Adi, Ron bertemu dengan teman sekolahnya, Panzerobergrenadier Gerard Günther. Günther dulunya bekerja sebagai insinyur di Perusahaan Sprengstoff. Sekarang ia bergabung di Divisi Panzerfaust Ke-34. Ron dan Günther setuju bekerja sama untuk membantu pasukan di Kota Adi.

Beberapa hari kemudian, Ron dan Günther sampai di Pantai Konslav.

“Kurasa pasukan kita bisa menyerang pasukan Sekutu itu”, kata Ron.

“Jangan sombong. Kita belum tahu bahwa mungkin mereka membawa pasukan yang banyak”, tutur Günther.

Tiba-tiba, muncul kabut dan asap yang menggumpal dari daerah itu. Dari kabut dan asap yang menggumpal, keluar sesuatu yang berapi dari langit yang diikuti dengan suara tembakan yang keras.

“AWAS!!!”, teriak Ron yang berusaha untuk melarikan diri.

Semua tentara berusaha untuk lari. Formasi pun terpecah. Bom mulai berjatuhan dan tentara-tentara yang tidak beruntung terkena serpihan bom. Ron, Günther dan tentara lainnya mulai membantu sesama dan masuk ke dalam bunker terdekat.

Günther segera berlari untuk mencari telepon sedangkan Ron mencari para dokter untuk membantunya. Dalam divisi milik Ron, ada salah seorang tentara, yang kehilangan lengannya karena terkena bom. Tentara itu bernama Kanonier Ludwig Teron. Ron berusaha untuk membantu Ludwig supaya dapat tetap hidup. Setelah menunggu beberapa jam, nyawa Ludwig akhirnya dapat diselamatkan walaupun kehilangan salah satu lengannya.

Setelah menghubungi benteng pertahanan di Kota Adi, Günther belum mendapatkan balasan dari komandan. Sambil menunggu balasan dari komandan, Günther dan Ron menyiapkan senapan dan bom yang akan digunakan dalam pertempuran nanti. Ludwig, tentara yang telah kehilangan lengannya, pergi keluar dari bunker untuk melihat keadaan. Setelah menunggu 2 jam, akhirnya ada telepon dari komandan bahwa bala bantuan akan segera datang. Setelah pasukan sudah siap, Ron, Günther dan pasukannya bersiap untuk berperang di luar bunker. Dari asap yang menggumpal, timbul beberapa bayangan dan suara mesin. Pertempuran dimulai. Ron pun mulai kehilangan beberapa pasukannya.

Oberfeldarzt Terry Johnson adalah pemimpin Divisi Lapis Baja Bala Bantuan Ke-43. Ron meminta bantuan kepada Terry untuk mengantarnya menuju meriam anti tank “Blitzkrieg”. Setelah menemukan meriam tersebut, Ron, Terry dan Günther menembakan meriam itu menuju angkasa dan jatuh tepat pada kapal-kapal milik Sekutu.

Setelah berhasil memperlambat pergerakan pasukan Sekutu dan berhasil mengambil alih Pantai Konslav, pasukan milik Ron, Terry dan Günther diperintahkan untuk kembali menuju Jam Kotral.  Di gedung pemerintahan, John Voln, Menteri Pertahanan Mimi Land, mengkhianati Presiden John Hensor dan bergabung dengan Sekutu. John Voln melarikan diri dari gedung pemerintahan dengan mobil hitamnya bersama dengan asistennya, Dary Hower. Dengan kejadian ini, Presiden John Hensor sangat marah sehingga memerintahkan Ron dan Günther untuk mencari John Voln.

Ron dan Günther mencari rumah persembunyian John Voln di seluruh tempat. Setelah mencari di sekitar Kota Vice, Ron melihat mobil milik John Voln di sebuah rumah kecil di daerah pusat kota. Setelah menunggu di luar rumah, John Voln keluar dari rumah bersama asistennya lalu masuk ke mobil. Tiba-tiba, muncul seseorang berbaju tentara sambil membawa senjata anti tank ditangannya dan mengarahkannya menuju mobil John Voln.

“Jangan tembak!”, teriak Ron. Tetapi tentara itu tidak dengar dan menarik pelatuk meriam dan menembaki mobil John Voln. Mobil itu pun meledak seketika bersama dengan John Voln dan asistennya yang ada di dalam mobil itu.

Ron dan Günther tercengang ketika melihat mobil tersebut meledak. Günther segera mengejar tentara tersebut.

“Mengapa kau menembak mobil itu?”, tanya Günther.

“Kau tidak akan tahu mengapa”, kata tentara itu sambil mengarahkan senjatanya menuju Günther dan menembak Günther 3 kali lalu melarikan diri. Ron mendengar suara tembakan dan lari untuk menghampiri Günther yang telah tewas kemudian memeluknya sambil menangis.

Beberapa saat kemudian, Presiden John Hensor memilih Mark Grablam menggantikan John Voln sebagai Menteri Pertahanan Mimi Land. Setelah mencari tentara yang menembak Günther di sekitar Kota Vice, Ron akhirnya menemukan tentara tersebut tergeletak bersama senjatanya di lantai rumah John Voln, yang disertai luka peluru di kepalanya. Setelah mengingat, Ron baru menyadari bahwa ia ternyata adalah Terry Johnson, pemimpin Divisi Lapis Baja Bala Bantuan Ke-43 yang membantu pasukan Ron untuk menghadapi pasukan Sekutu.

Beberapa hari setelah kematian Günther, pasukan Sekutu mendapat kemenangan di semua peperangan. Ron dan pasukannya menunggu kedatangan pasukan Sekutu di dekat Jam Kotral. Dengan semua tenaga, kemampuan dan pasukan yang dimilikinya, Ron bersusah payah untuk mempertahankan posisi daerah yang dikuasainya. Namun, dalam pertempuran yang berlangsung selama 17 jam, Ron dan pasukannya gagal. Beberapa tentara mundur, beberapa tentara yang lain melarikan diri, dan sisanya tewas dalam pertempuran. Akhirnya, Ron dan pasukannya yang ia miliki lari menuju Kota Dugi.

Setelah berhasil melarikan diri dari tentara Sekutu, Ron bertemu dengan Wakil Presiden Mimi Land, Alfred Danvon. Ron menceritakan segala yang terjadi di garis depan. Alfred mulai berpikir dan meminta dia untuk mengirim pasukan yang tersisa ke medan perang guna menjaga pertahanan terakhir. Setelah diberi perintah, dia segera pergi dan melaksanakan perintah itu. Alfred, John Hensor dan Mark Grablam memikirkan mengenai apa yang akan dilakukan jika pertahanan terakhir telah diterobos.

Ron kembali menuju gedung pemerintahan untuk bertemu dengan Presiden dan Wakil Presiden Mimi Land. Saat dia sedang pergi menuju gedung pemerintahan, Ludwig dan 260 tentara lainnya dikirim dengan pesawat menuju Kota Adi. Namun, dalam perjalanannya, pesawat tersebut ditembak oleh Sekutu. Pesawat itu terbakar dan jatuh di dekat Sungai Drasdenburg.

Pada tanggal 30 Desember 1946, Presiden Mimi Land, John Hensor dan wakilnya, Alfred Donvon serta Menteri Pertahanan, Mark Grablam menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Ron akhirnya meninggal pada tanggal 5 Januari 2003 karena lanjut usia dan pada tanggal 16 Januari 2010, Ron Vonslav resmi dijadikan sebagai Pahlawan Perlawanan Sekutu Mimi Land

 

bismarck

Komodo

Komodo – Varanus komodoensis

Komodo atau Varanus komodoensis dalam bahasa ilmiah adalah kadal terbesar di dunia. Kadal ini dapat tumbuh sepanjang 3 meter dan berat mencapai 136 kg. Hewan tersebut dapat hidup selama 30 tahun. Pejantannya berwarna abu-abu gelap dan bata merah sedangkan yang betina berwarna coklat zaitun dan berwarna kuning pada bagian lehernya.

Komodo hidup di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama di Pulau Komodo dan sekitarnya. Habitatnya sebagai berikut:

  • Savana
  • Hutan tropis
  • Daerah pantai

Provinsi Nusa Tenggara Timur

Komodo dapat berlari mencapai 18 km/jam, memanjat pohon dengan cakarnya yang besar dan kuat selain itu dapat berenang dengan baik serta menyelam sampai sedalam 4,5 meter. Karena kemampuannya ini, komodo menyebar ke pulau-pulau di sekitar Pulau Komodo.

Air liur Komodo mengandung bakteri-bakteri yang berbahaya. Dalam waktu 24 jam korbannya dapat mati karena keracunan. Komodo memakan segala jenis binatang, seperti kerbau, tikus, tupai, ular, burung, dan anoa. Mereka dapat makan 80% dari berat badannya sendiri dalam satu kali makan.

Komodo adalah salah satu binatang yang terancam punah. Penyebab dari kepunahan itu antara lain:

  • Menurut Kompasiana ( http://edukasi.kompasiana.com/2011/04/20/komodo-hewan-langka-indonesia/), salah satu faktor kepunahan komodo adalah penjualan ilegal yang dilakukan di pasar gelap.
  • Menurut  informasi dari Yahoo (http://id.post.yahoo.com/s?s=AVC5R2JrTUq1uHBFVKnoJw/Aj0Gaw.qg.mcyd567qTQy09F8aWGgyfQ), pencalonan Pulau Komodo menjadi salah satu 7 keajaiban dunia memiliki sisi negatif antara lain:
    • Pemerintah akan mengadakan pembangunan aset wisata besar-besaran di lokasi wisata Taman Nasional Komodo, mulai dari hotel, restoran, sarana dan prasarana, serta penyewaan alat-alat pendukung wisata. Hal ini akan menghabiskan banyak biaya dan investor asing akan banyak menanamkan modal di TNK ini.
    • Pembangunan besar-besaran ini akan membuat habitat Komodo sebagai hewan langka terusik dan akhirnya terpinggirkan oleh banyaknya aset-aset wisata yang berdiri di mana-mana.
    • Ketika Komodo stres dan tidak sanggup menahan beban dari aktivitas pembangunan manusia yang gencar ini, maka Komodo akan punah satu persatu.
  • Menurut Kepala Seksi Pengelolaan Balai Taman Nasional Komodo Pulau Padar, Ramang Isaka, Komodo di Pulau Padar punah total. Tidak ada lagi kotoran komodo yang ditemukan di sana. Belum diketahui pasti penyebab punahnya binatang langka itu. Tetapi kuat dugaan perburuan liar rusa dan babi serta perubahan lingkungan akibat pembakaran liar menjadi penyebab punahnya Komodo. Hal ini disampaikan kepada Okezone.com (http://news.okezone.com/read/2008/08/04/1/133638/komodo-di-pulau-padar-punah).

Untuk mencegah kepunahan komodo, beberapa cara dapat dilakukan seperti:

  • Membuat suaka marga satwa untuk komodo
  • Menghentikan perdagangan ilegal yang memperjualbelikan kulit komodo
  • Menghentikan penghancuran tempat tinggal komodo
  • Mensosialisasikan pada masyarakat tentang komodo sebagai binatang yang hampir punah sehingga harus dilestarikan
  • Mengajak masyarakat untuk ikut serta untuk melestarikan komodo

Kita sebagai warga Indonesia seharusnya merasa bangga terhadap keberadaan komodo di Indonesia. Supaya hewan tersebut tidak punah, maka kita seharusnya menjaga supaya dapat dinikmati oleh semua orang.

Sumber:

Merdeka

Suatu hari yang sunyi di perdesaan yang sekarang dinamakan Denpasar, hidup seorang remaja bernama Daren. Saat itu Daren sedang menikmati pagi dengan meminum kopi dan membaca koran. Tiba-tiba tentara Belanda menyerang perdesaan itu. Daren segera mengambil senapannya dan mulai menyerang balik tentara Belanda. Tetapi akhirnya Belanda mengambil alih perdesaan tersebut dan para warga melarikan diri. Made, sepupu Daren sedang merencanakan rencana untuk mengambil kembali desa tersebut dari Belanda. Daren dan tetangganya, Joko baru saja kembali dari perdesaan. Setelah merencanakan rencana untuk penyerangan, warga perdesaan, Daren, dan teman-temannya menyerang benteng pertahanan Belanda. Daren menyerbu ke dalam benteng dan menembak para penjaga. Ia segera masuk ke dalam ruangan Jenderal Bonzfect. Daren bernegosiasi dengan Bonzfect untuk segera menyerah. Tetapi Bonzfect tidak menyerah, maka ditembaklah dia oleh Daren dan ia pun tewas. Hari kemerdekaan Indonesia sudah lewat tetapi Belanda belum juga menyerah, maka terjadi pertempuran yang bertempat di Selat Bali antara tentara Belanda dengan rakyat Bali. Daren, Made dan Joko segera menggunakan perahu tradisional Bali dan pergi menuju Selat Bali untuk membantu rakyat Bali yang lain. Pertempuran pun dimulai. Perahu milik Joko telah tertembak dan perahu tersebut tenggelam. Ketika Joko sedang berenang, salah satu tentara Belanda menembak Joko dan ia pun meninggal. Daren melempar granat menuju salah satu perahu Belanda dan perahu tersebut meledak. Hanya 3 perahu Bali dan 1 perahu Belanda. Tetapi, tiba-tiba perahu milik Daren meledak dan menewaskan Daren. Made mengambil tubuh Daren dan mengkuburkannya di daerah bernama Gilimanuk.

James Howencer, Germany eps: 6

James Howencer’s mission is to find the lost men in the he local forest.

13 February 1964

James Howencer go to the Manchester International airport, Manchester to Berlin Brandenburg airport. He arrive at Berlin at 12:30. After he arrive, he meet with his friend name Michael Mcfinley from the local forest ranger that need James to find the men inside the forest. They get inside a car and go to the local forest. James start to find some clues about the lost men. James find a wripped out cloth on a tree branch. James theory is maybe the lost men is running from an animal. James ask to the rangers to keep searching in the area.

14 February 1964

The next day, James coming back to the location to see and search more clues. Suddently, one of the rangers find a footprints that leading them to a small cabbin in the middle of the forest. James and the rangers start to knock at the door. But there are no answers from the inside of the cabbin. The rangers finally bang the door. When they were inside of the cabbin, they find a cap and a jacket with a scratch on it. James and the rangers were start to worry if the men already been eaten by the animal. James and the others keep searching throught out the forest. Finally they found the lost men, but their fears were right, hte lost men already died. The rangers see a big bite in the stomach on one of the dead body.

18:00

The bodies has been carry by the ambulance to the nearest hospital for autopsy. James and the local police try to find their families to take their family member’s body. Around 18:44, James go back to the hotel for resting.

15 February 1964

James Howencer take the taxi to Berlin Brandenburg airport and take a flight back to Manchester International airport, Manchester.